Kamis, 22 April 2021

Hujan dan segelas kopi klasik dibalik kamar kerjaku

Hujan dan Kopi.

 
hari yang cerah perlahan berganti mendung, sketsa yang sedang kukerjakan perlahan kukembalikan pada kumpulan bukuku.
kembali kugenggam ponsel pintarku, kulepas kaos hitamku dan kubaringkan kembali diriku.
sembari scrolling postingan di ig sedikit mencari referensi design, melihat portofolio yang bermerah membuatku semakin mager, bahkan mengisi absen harian dari kantor untuk monitoring saat jadwal libur saja di riku terasa malas. sembari kembali melihat iklan yang bertebaran di berandaku, teringat kembali satu Drama yang belum selesai kutonton, judulnya "Mouse", Drama ini bergenre Thriller, menceritakan seorang perwira Polisi yang jujur, lugu dan sangat menjujung keadilan bekerjasama dengan seorang detektif tangguh untuk mengungkap kasus pembunuhan misterius yang dilakukan oleh predator jahat yang disebut psikopat 'nomor satu.' Hidup sang polisi berubah drastis setelah berhadapan dengan kasus psikopat tersebut. jujur saja yang membuat tertarik dengan drama ini ya karena bercerita tentang seorang Psikopat. diperankan oleh Lee Seung-Gi  sebagai Jeong Ba-reum dan Park Joo Hyun sebagai Oh Bong-yi membuatku semakin tertarik untuk tetap mengikuti drama ini. btw, saat ini baru sampai episode 14 ya, hehehhe.
sembari menyelesaikan satu episode drama itu, kembali kilat dan guntur bersahutan dilangit cerah kota Batam, dan dalam hitungan detik saja rintik hujan sudah bergemuruh diatas setiap atap rumah.
tanpa basa-basi, langkah teman sekamarku berlari mengejar pakaian yang sedang ia gantungkan di jemuran luar, alasan klasiknya besok mau dipakai, padahal dia sedang mengambil cuti beberapa hari dikantor. hmm, ya maklum saja, orang kantoran heheheheh.
tanpa malu-malu hujannya berlanjut sampai sore hari, membuatku semakin malas melangkah keluar. sesekali kudokumentasikan percikan air yang menempel di kaca kamar kerjaku. dan terlintas kembali dibenakku untuk memberanikan diri menghubungi dirinya.
ya, dia yang mana juga membuatku bingung, katakan saja "Dia" untuk menyamarkan maksud dan tujuan indahku ini. untuk memberikan suasana baru, kuseduh kopi hitam klasik dengan air putih mendidih menggambarkan perasaanku yang sedang membara padanya. kuputar lagu klasik dari spotify premium, iya premium versi MOD, heheheheh.
 
sembari sesekali scrolling pesan WA yang ku mute notifikasinya. hehehe maafkan aku yang sok super sibuk wahai teman-teman, diriku sedang berjuang sendiri dengan jalanku yang tak akan kuhentikan lagi. masih dengan hujan dan segelas kopi didepanku membuatku semakin hampa memaknai sebuah perjalan cinta. sesekali otak yang sok bijak lebih cepat dari hati yang penuh rasa. menyimpulkan bahwa aku terlalu nafikan perasaan untuk tak berbalas. jujur saja ini jalan terbaik yang kupilih unutk terhindar dari rasa bersalah dan sakit hati kelak dikemudian hari. sesekali kucoba mengartikan keinginannya dan mecoba berpikir dewasa itu tidak mudah. aku tidak menyesal dengan perasaanku, karena ini bukan soal pilihan. aku juga cukup memahami dia pasti butuh waktu untuk memastikan diriku yang jauh dari kata dewasa dan sempurna, masih terlihat labil dan terlalu abu-abu jika dipandang dengan kasat mata. 
sejak awal juga sudah kukatakan, bahwa diriku tidak berharap untuk mendapatkan balasan atas perasaanku. aku hanya ingin memastikan satu hal kunci saja, Apa aku punya kesempatan menyempurnakan perasaanku?
bersanding denganmu saja jika kupikirkan dalam-dalam membuatku lebih dari kata tersipu malu dan tak tahu diri, namun rasa nyaman yang telah kutemukan menutupi segala rasa malu yang berlebih. banyak cerita tentangmu yang buruk kudengar sebelum kutemukan rasa nyamanku. ya, mungkin Tuhan memberikan ini sebagai satu kelebihan padaku untuk tak mempercayai setiap rumor sebelum benar-benar kupastikan sendiri.
sosokmu benar-benar membuatku kembali bersemangat beberapa waktu lalu, berharap aku akan melakukan segala hal untuk mengisi setiap kekosongan supaya dirimu benar-benar mendapatkan lebih dari sebuah kata nyaman. 
seharusnya sejak awal kau katakan saja jika dirimu tidak memiliki ruang lagi. sejak awal harusnya kau ceritakan bahwa waktumu bisa sia-sia jika terus bercerita denganku. seharusnya sejak awal kau sebutkan saja kesempurnaan hal utama di pencarianmu. aku jadinya salah sangka kan, melihat reaksi sensitifmu yang teralu berlebih menurutku, ya itu cukup berlebihan bagiku yang terlalu terbawa perasaan ini. kembali kumaknai kata-katamu pada pada tegukan terakhir kopiku, sepertinya responmu yang sensitif membuatku semakin semangat untuk mengejarmu, aku sadar dulunya mungkin diriku memiliki sikap dingin dan semua ini ganjarannya. tapi benar, wanita itu butuh kepastian. untukmu yang sudah berada beberapa tingkatan fase diatasku kucoba menyamaimu di kelas berbeda.
ya, aku kesal dan cukup marah pada diriku yang terlalu bodoh untuk mencernanya dari awal. mungkin death space benar menginginkanku untuk termenung sejenak memandang sekeliling. sepintas aku berharap bisa melewati lubang itu, menyampaikan pada dirimu yang berada dimasa depan, bahwa diriku dari masalalu benar-benar menemukan kenyamanan mengenalmu. apaan sih aku ini, teralalu percaya diri bahkan pada hubungan yang dimulai dari pesan teks dan voice call yang bahkan sering kau decline, hubungan? mungkin hubungan chat dan call saja maksudku.
mungkin kita butuh waktu untuk menuju pendewasaan, namun harapan terdalamku kita bisa didewasakan keadaan bersama, bukan saling meyendiri menuju pendewasaan diri.
lekaslah surutkan amarahmu, aku jadi takut untuk memberimu emoticon love, hehehehhe.
ada apasih dengan diriku, hujannya sudah reda kok, juga kopiku sudah habis.
sepertinya untaikan kata random ini berakhir sampai disini dulu, sketsa sebelumya sudah memnggil jiwaku kembali untuk mencoret-coret dan semoga selesai dalam pekan ini.
 
terima kasih waktu, 
kau masih memberiku ruang untuk melihat kenyataan saat ini. teruslah hadir disetiap pojok perjalananku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan dan segelas kopi klasik dibalik kamar kerjaku

Hujan dan Kopi.   hari yang cerah perlahan berganti mendung, sketsa yang sedang kukerjakan perlahan kukembalikan pada kumpulan bukuku. kemba...